laporan praktikum pertumbuhan tanaman

Laporan Praktikum Ilmu Hijauan Makanan Ternak Acara Pertumbuhan Tanaman

Halo gan, kali ini kita akan membagikan contoh laporan praktikum ilmu hijauan makanan ternak atau IHMT bagian acara pertumbuhan tanaman. simak terus ya.


LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HIJAUAN MAKANAN TERNAK

Acara Pertumbuhan Tanaman

Disusun oleh: Kelompok V

LABORATORIUM HIJAUAN MAKANAN TERNAK DAN PASTURA
BAGIAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA


TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan & Perkembangan Tanaman

Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran sel atau organisme. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif atau terukur. Perkembangan adalah proses menuju kedewasaan pada organisme. Proses ini berlangsung secara kualitatif. Baik pertumbuhan atau perkembangan bersifat irreversibel (Reksohadiprodjo, 1994).

Tampilkan Pos

Menurut Anita (2009),  secara garis besar pertumbuhan dan perkembangan tanaman dibagi dalam 3 (tiga) fase, yaitu fase embryonis, fase muda (juvenil/ vegetatif), fase menua dan aging (senil/senescence).

Fase embryonis

Fase embryonis dimulai dari pembentukan zygote sampai terjadinya embrio, yang terjadi di dalam bakal biji (ovule). Zygote diikuti dengan pembelahan sel sesudah itu terjadi pengembangan sel. Fase embryonis tidak terlihat secara nyata (tidak tergambar dalam kurva) dalam pertumbuhan tanaman, karena berlangsungnya di dalam biji.

Fase muda (juvenil/ vegetatif)

Fase muda (juvenil/ vegetatif) dimulai sejak biji mulai berkecambah, tumbuh menjadi bibit dan dicirikan oleh pembentukan daun-daun yang pertama dan berlangsung terus sampai masa berbunga dan atau berbuah yang pertama. Perkecambahan merupakan satu rangkaian yang komplek dari perubahan-perubahan morfologis, fisiologis, dan biokimia.

Fase menua dan aging (senil/senescence)

Fase menua dan aging (senil/senescence), terdapat beberapa faktor luar dapat menghambat atau mempercepat terjadinya senescence, misalnya penaikan suhu, keadaan gelap, kekurangan air dapat mempercepat terjadinya senescence daun, penghapusan bunga atau buah akan menghambat senescence tanaman, dan pengurangan unsur-unsur hara dalam tanah, air, penaikan suhu, berakibat menekan pertumbuhan tanaman yang berarti mempercepat senescence.

Fase Perkecambahan

Mekanisme proses perkecambahan meliputi beberapa tahap yaitu:  

  1. Perkecambahan diawali dengan masuknya air ke dalam biji melalui proses imbibisi.  
  2. Setelah biji menyerap air, ukuran biji akan mengembang dan membesar menyebabkan kulit biji kadang menjadi pecah.
  3. Air yang masuk akan memacu embrio dalam biji melepaskan hormon giberelin pada embrio (sekresi hormon).  
  4. Hormon ini mendorong pelepasan enzim amilase di lapisan aleuron (sekresi enzim) yang berfungsi menghidrolisis makanan cadangan (mengubah pati menjadi gula) sehingga terbentuk energi.  
  5. Energi ini disalurkan pada embrio dalam biji untuk pertumbuhan embrio (asimilasi/pembentukan energi).
  6. Pada akhir perkecambahan, akan terbentuk akar, batang dan daun.  

Sifat-sifat tumbuh berkaitan erat dengan daya adaptasinya terhadap lingkungan yang mencakup beberapa hal antara lain kemampuan memproduksi pada lingkungan khusus, lebatnya tanaman yang diukur dengan kelebatan hijauan dan frekuensi adanya tanaman dalam pertanaman, hasil bahan kering dan kemampuan meluasnya tanaman (Reksohadiprodjo, 1994).

Dua mekanisme untuk menjaga kesinambungan beradanya suatu spesies tanaman pasture yaitu melalui siklus terbentuknya bunga dan biji, serta membentuk anakan. Pertumbuhan paling cepat ditemukan di dalam habitat yang produktif, sedangkan tempat-tempat yang tidak baik dan beracun mendukung dengan pertumbuhan yang lebih lambat (Gardner et. al., 1991).

Ketahanan hidup memerlukan daya tahan terhadap stres lingkungan hidup antara lain faktor klimat meliputi katahanan terhadap lingkungan, ketahanan terhadap udara dingin, dan ketahanan terhadap cuaca beku, faktor tanah meliputi ketahanan terhadap kondisi drainase, ketahanan terhadap keasaman tanah, ketahanan terhadap mineral tanah yang sifatnya racun, ketahanan terhadap kandungan garam dalam tanah, ketahanan terhadap tekstur tanah; faktor biologi meliputi ketahanan terhadap pemotongan, ketahanan terhadap penggembalaan, ketahanan terhadap kebakaran dan penyakit (Humphreys, 1994).

Secara morfologis proses perkecambahan merupakan proses pengangkutan makanan dan pernafasan. Permulaan dan akhir perkecambahan biji sukar ditentukan karena dalam pelaksanaan sehari-hari biji berkecambah bila belum keluarnya radicle atau plumule dari kulit biji. Peristiwa sebelum keluarnya radicle atau plumule sendiri terjadi pertumbuhan oleh pembelahan sel, perpanjangan sel maupun keduanya (Setyati, 1991).

Ketahanan hidup memerlukan daya tahan terhadap stres lingkungan hidup antara lain faktor klimat meliputi katahanan terhadap lingkungan, ketahanan terhadap udara dingin, dan ketahanan terhadap cuaca beku, faktor tanah meliputi ketahanan terhadap kondisi drainase, ketahanan terhadap keasaman tanah, ketahanan terhadap mineral tanah yang sifatnya racun, ketahanan terhadap kandungan garam dalam tanah, ketahanan terhadap tekstur tanah; faktor biologi meliputi ketahanan terhadap pemotongan, ketahanan terhadap penggembalaan, ketahanan terhadap kebakaran dan penyakit (Humphreys, 1994).

Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan yang berasal dari dalam tumbuhan disebut faktor internal.

Adapun faktor eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi petumbuhan dan perkembangan yang berasal dari luar tumbuhan. Faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan adalah hormon auksin, giberelin, sitokinin, etilen dan asam absisat.

Hormon auksin berfungsi merangsang pemanjangan batang, pertumbuhan akar, diferensiasi dan percabangan dormansi apikal, perkembangan buah, membantu fototropisme dan geotropism. Hormon auksin dapat ditemukan pada endosperm dan embrio pada biji, meristem apikan dan daun muda.

Hormon giberelin merangsang perkecambahan tunas dan biji, perpanjangan batang, pertumbuhan daun, merangsang perbungaan dan perkembangan buah, mempengaruhi pertumbuhan akar dan differensiasi. Hormon giberelin dapat ditemukan pada meristem apikal tunas, akar dan daun muda.

Hormon sitokinin mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar, merangsang pembelahan sel dan pertumbuhan perkecambahan, dan perbungaan, menunda penuaan sel. Hormon sitokinin disintesis di akar dan ditransportasikan ke organ lain.

Hormon etilen berfungsi merangsang pematangan buah, menghambat pertumbuhan dan perkembangan akar, bunga, dan bunga tergantung spesiesnya. Hormon etilen juga berfungsi mengurangi efek auksin. Hormon etilen ditemukan pada jaringan buah masak, nodus (buku) batang dan daun tua.

Asam absisat berfungsi menghambat pertumbuhan, penutupan stomasa saat kekeringan dan memelihara dormansi. Asam abisisat dapat ditemukan pada daun, batang dan buah hijau. Faktor eksternal yang mempengaruhi yaitu adanya sinar matahari, suhu atau temperatur, kelembaban udara, air dan unsur hara tanah (Anita, 2009).

MATERI DAN METODE

Materi

Alat. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum pertumbuhan tanaman yaitu penggaris dan kertas kerja.

Bahan. Bahan yang dibutuhkan dalam praktikum pertumbuhan tanaman yaitu biji dari tanaman rumput Oryza sativa dan legume Leucaena leucocepala.

Molecular characterization of rice (Oryza sativa L.) genotypes using target  region amplification polymorphism (TRAP) markers in relation to grain iron  content – IJAAR | International Network for Natural Sciences
Oryza sativa
Amazon.com : 1 oz Seeds (Approx 506 Seeds) of Leucaena leucocephala, White  Leadtree, White Popinac, Jumbay, Leadtree : Garden & Outdoor
Leucaena leucocepala.

Metode

Praktikan melakukan pencampuran tanah dengan pupuk kandang kemudian tanah yang tercampur dibuat tempat tumbuh tanaman,  tanaman yang ditanam yaitu rumput Oryza sativa dan legume Leucaena leucocepala. Pertumbuhan tanaman rumput dan legume diukur selama 30 hari, tanaman disiram setiap hari 2 kali sehari pagi dan sore serta dilakukan pengukuran panjang tanaman dan jumlah daun tanaman, kemudian hasilnya dibandingkan dan dilihat perbedaan pertumbuhan antara rumput dan legume.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan tanaman

Praktikum pertumbuhan tanaman bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecepatan pertumbuhan tanaman rumput dan legum. Berdasarkan pengamatan dan pengukuran yang dilakukan pada saat praktikum diperoleh data sebagai berikut.

Tinggi tanaman

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 1. Tinggi tanaman

Hari keTinggi tanaman (cm) 
 Oryza sativaLeucaena leucocephala
100
200
300
420,6
54,061,3
653
76,84
8134
9174,3
1017,64,9
11215
12235,7
13226,2
14236,3
15256,6
16267
1726,37.2
18287,4
1927,68
2031,38,7
2131,39,6
223311
233313,1
243914
2540,614
2642,814,5
2746,815
284515
294916
305216

Berdasarkan tabel 1. Diketahui tanaman padi lebih tinggi dari pada tanaman lamtoro. Berdasarkan tabel 1.  dapat diketahui tinggi tanaman padi 6,8 cm seminggu setelah penanaman, dua minggu setelah penanaman tingginya 23 cm, tiga minggu setelah penanaman tingginya 31,3 cm dan 30 hari setelah penanaman tingginya mencapai  52 cm sedangkan tanaman  lamtoro tingginya 4 cm seminggu setelah penanaman, dua minggu setelah penanaman tingginya 4 cm, tiga minggu setelah penanaman tingginya 7 cm dan 30 hari setelah penanaman tingginya mencapai  16 cm

Proses pertumbuhan padi dimulai dari proses perkecambahan biji. Perkecambahan benih padi terjadi ketika radikula muncul dari kulit biji. Benih padi akan berkecambah jika kadar air benih pada saat di dalam tanah meningkat >30% (McWilliams et al. 1999). Proses perkecambahan benih padi mula-mula benih menyerap air melalui proses imbibisi dan benih membengkak yang diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim dan respirasi yang tinggi. Perubahan awal sebagian besar adalah katabolisme pati, lemak, dan protein yang tersimpan dihidrolisis menjadi zat-zat yang mobil, gula, asam-asam lemak, dan asam amino yang dapat diangkut ke bagian embrio yang tumbuh aktif. Awal perkecambahan koleoriza memanjang menembus pericarp, kemudian radikel menembus koleoriza. Setelah radikel 24 muncul, kemudian empat akar seminal lateral juga muncul. Pada waktu yang sama atau sesaat kemudian plumule tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil terdorong ke atas oleh pemanjangan mesokotil, yang mendorong koleoptil ke permukaan tanah. Mesokotil berperan penting dalam pemunculan kecambah ke atas tanah. Ketika ujung koleoptil muncul ke luar permukaan tanah, pemanjangan mesokotil terhenti dan plumul muncul dari koleoptil dan menembus permukaan tanah.

Penanaman benih saat praktikum adalah sedalam 5 cm dan tanaman padi mulai berkecambah pada hari kelima. Subekti et al, (2011) mengatakan benih padi umumnya ditanam pada kedalaman 5-8 cm. Bila kelembaban tepat, pemunculan kecambah seragam dalam 4-5 hari setelah tanam. Semakin dalam lubang tanam semakin lama pemunculan kecambah ke atas permukaan tanah. Pada kondisi lingkungan yang lembab, tahap pemunculan berlangsung 4-5 hari setelah tanam, namun pada kondisi yang dingin atau kering, pemunculan tanaman dapat berlangsung hingga dua minggu setelah tanam atau lebih.

Grafik 1. Perbandingan tinggi tanaman Oryza sativa dan Gliricidiaa maculata

Berdasarkan grafik 1. Terlihat jelas bahwa pertumbuhan padi terjadi dengan cepat, dan yang tercepat yaitu pada hari ke-7 sampai hari ke-10. Sedangkan lamtoro pertumbuhanya lebih lambat daripada padi.

Jumlah daun

Berdasarkan hasil pengamatan selama 30 hari mulai dari mulai biji ditanam diperoleh data jumlah daun gamaldan padi sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah daun

Hari keJumlah daun(helai) 
 Oryza sativaLeucaena leucocephala
100
200
300
400
521
621
721
833
933
1033
1133
1233
1333
1444
1554
1654
1754
1854
1965
2065
2175
2276
2376
2476
2577
2677
2777
2887
2987
3087

Padi umur 15 hari (10 hari setelah berkecambah) memiliki 5 helai daun, dan memiliki 6 helai daun terbuka setelah 14 hari dari biji mulai  berkecambah  Argo dkk, (2011) mengatakan tanaman padi umur 10-18 hari setelah berkecambah akan memiliki beberapa daun yang telah membuka sempurna (3-5 helai). Tanaman padi akan memiliki 6-10 daun terbuka sempurna saat tanaman berumur antara 18 -35 hari setelah berkecambah. Pertumbuhan tanaman padi yang diamati dikatakan baik karena pertumbuhannya sesuai dan atau lebih cepat daripada pertumbuhan tanaman padi standar. Sedangkan, tumbuhan gamal yang diamati belum berkecambah selama 30 hari pertama penanaman.

Grafik 1. Perbandingan jumlah daun tanaman Oryza sativa dan Gliricidiaa maculata

Berdasarkan grafik terlihat jelas bahwa tanaman padi memiliki pertambahan jumlah daun yang lebih cepat dari pada tumbuhan lamtoro. Pertumbuhan rumput Oryza sativa jauh lebih cepat dan signifikan dibandingkan pertumbuhan legume Leucaena leucocephala. Banyak faktor penyebab yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Apabila faktor tersebut kebutuhannya tidak terpenuhi maka tanaman tersebut bisa mengalami dormansi yaitu berhenti melakukan aktifitas hidup. Faktor pengaruh tersebut yakni faktor suhu atau temperatur lingkungan,  adanya air dan mineral, faktor kelembaban udara, faktor cahaya matahari, dan faktor hormon (auksin, giberelin,dan sitokinin) (Setyati, 1991).

baca juga 10 Contoh Hijauan Pakan Ternak yang Populer (Rumput dan Legum)

KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan pada saat praktikum diketahui bahwa pertumbuhan rumput Oryza sativa lebih cepat dibandingkan pertumbuhan legume Leucaena leucocephala. Faktor pengaruh tersebut yakni faktor suhu atau temperatur lingkungan,  adanya air dan mineral, faktor kelembaban udara, faktor cahaya matahari, dan faktor hormon (auksin, giberelin,dan sitokinin).

baca juga : LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN AGROBISNIS – RUMAH POTONG AYAM

DAFTAR PUSTAKA

Anita. 2009. Pertumbuhan dan Morfologi Tanaman Padi. http://zs.shuidao.cn/IRRI/regional sites/Indonesia

Gardner, F.P., R.B. Pearce and R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan UI Press. Jakarta

Humphreys, L. R. 1994. A Guide To Better Pasture For The Tropics. Longman. London.

Mc Williams, D.A., D.R. Berglund, and G.J. Endres. 1999. Corn growth and management quick guide.www.ag.ndsu.edu. (Diakses tanggal 16 Mei 2010).

Reksohadiprodjo, S. 1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. BPFE. Yogyakarta

Setyati, S. 1991. Pengantar Agronomi. Cetakan ke-10. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Subekti et al. 2011. Morfologi dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros

baca juga : LAPORAN PRAKTIKUM INDUSTRI TERNAK PERAH – BBPTU BATURADEN